PENGHARAPAN
DI SENJA LUKA
Oleh:Damay Ar-Rahman
Matanya terlihat picing terhampar dipermukaan
laut membentang. Suaranya luruh bersama desiran ombak yang menghempaskan
tubuhnya ke karang. Cakra jingga menimbulkan sebuah aura yang bernada senja
gelora. Aluran waktu menatap mati seakan-akan terhunus debu dikala senja itu. Di
senja itu terlihat pula Perempuan yang berusia senja jua. Rambutnya beruban
menutupi layar yang pekat dalam jumlah waktu yang tiada terhingga.
Maka bangkitlah sebuah memori dalam
pikirannya, yang meninggalkan berbagai persoalan yang tiada mampu terlupakan
dengan sekejab. Lakon-lakon lampau mulai melayang hingga menembus samudra.
“ Amira....”. Sebuah sentuhan lembut
tertimpa di bahunya.
“ Kau kembali”. Tanyanya dengan
wajah disertai hati yang tidak karuan.
“ Mengapa kau terkejut?” Mata lelaki
itu menatap dingin namun bibirnya memuncah sendu.
“ Oh bukan itu, dari sekian waktu
yang ku tempuh kini kau kembali?” Amira lagi-lagi menderu dan membalas bola
mata lelaki bernama Eko dengan tajam, bahkan lebih darinya.
“ Aku kesini bukan untuk menambah
lukamu. Tujuanku hanya ingin mengatakan biarlah aku berlalu, tanpa adanya
kegelisahan yang membuatmu menderita tanpa berujung”
Matanyapun tertutup, terbayang
kembali tentang masa lalu. Barulah Amira sadar bahwa, ia sudah berlanjut dan
dimakan kemangsian waktu, atas pengharapannya terhadap lelaki yang pernah disakiti,
dikhianati, dan di telantarkan dalam kondisi papa. Lalu karmapun diterima
Amira. Namun, bukan masalah karma, tetapi kesadaran bahwa, dahulu kala Ekolah
pejaga hati yang sesungguhnya, pahlawan sejati yang menghilang seketika
menoleh, dan baru diketahui lalu lupa begitu saja.
Ah...tidak, itu bukan kasihan,
tetapi rasa cinta dan sayang mulai tumbuh disaat Amira terkapar dalam
kemiskinan akibat tertipu dari lelaki bernama Adi. lelaki tersayang, ditinggikan
kemapanannya yang tidak lain harta dari Amira. Bukan... harta itu milik Eko
yang dirampas ketika masih bersama, bahkan Amirapun tak henti, mencari cara membunuhnya.
Namun, dendam tidak ada di hati
lelaki berhati mulia itu. ketika kemelaratan hidup Amira yang ditinggalkan
lelaki penipu bangsat, licik, Eko
kembali menyentuhnya dengan ketulusan yang tiada terbalas. Tentu saja, bila
kebanyakan orang menilai sikapnya Eko, pastilah orang-orang menganggap dia orang
terbodoh di dunia. Mau-mau saja rujuk
dengan wanita yang tlah menghancurkan hidupnya dan meninggalkannya.
Amirapun menyesali, karena tlah
memangsikan cinta Eko, yang begitu selembut awan yang mengumpal di langit
ciptaan-Nya yang sempurna. Bagaikan bunga yang mekar memberikan pesona tiada
terbatas. Sejak saat itulah merekapun bersatu kembali dan memahat rumah tangga
dengan membuka lembaran baru lagi. Dua tahun kemudian mereka memiliki buah hati
bernama Intan (aku), dan 15 tahun kemudian kejadian memilukanpun terjadi.
Lelaki yang bernama Eko (Bapak) itu meninggalkanku dan Ibu, dikarenakan gelombang
lautan yang mengantarkannya kedalaman yang curam, lalu menelannya tidak kembali
berpulang. Iya... senja perpisahan di saat itu meradang, dan perlahan-lahan
menjauh. Bapak sudah pergi, kuyakin bapak syahid disana, cerita Ibu terekam di
otakku saat kepergian Ayah tujuh hari setelahnya, yang pada waktu itu
kupertanyakan mengapa Ibu mencucurkan air mata disetiap waktu.
Hingga saat ini, perempuan itu masih
termenung di lautan tepatnya saat senja. Membisu di batu karang dengan warna
jingga yang masih menerawang di titisan wajah kisut dan bola matanya. Hingga tiga
bulan kemudian Ibu menghembuskan nafas terkahirnya dengan ilusi bayangan bapak,
yang masih terrtera di matanya.

Buku di atas adalah karya Damayanti yang bernama pena Damay Ar-Rahman.